Sabtu, 23 Juli 2011

Mahasiswa ASM Terdaftar Sidang Periode I

PENDAFTARAN SIDANG PERIODE I - 2011


Kode Dosen : DGE  
Nama Dosen : Dirgahayu Erri  

No.
NIM
NAMA
OUTLINE
JUDUL TA

1

22080822




  INDRIANI DEWI  

Riset

Kausalitas Kegiatan Promosi dan Dampaknya Terhadap Peningkatan Jasa Sewa Apartemen Pada PT. Putra Anugerah Abadi Jakarta

2

22080901

RINA AFRIANI

Riset

Peranan Pendidikan dan Pelatihan Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja Karyawan Pada Divisi SDM Perum Peruri Jakarta

3

22080859

WIDHA RAHAYU

Riset

Pelaksanaan Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai Pada Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Jakarta

4

22080897

ALFINA

Riset

Proses Administrasi Simpan Pinjam Terhadap Efisiensi Kerja Bagian Keuangan Pada Koperasi Pegawai Perum Peruri (KOPETRI) Jakarta

5




22080802





FAIMAH

Riset

Pelaksanaan Persediaan Bahan Baku dan Dampaknya Terhadap Tingkat Penjualan di Restoran Gyukaku Pasific Place Pada PT Global Nusa Jaya Abadi Jakarta

6

22080852

HESTI WULAN

Riset

Peranan Bagian Pelayanan Pelanggan Terhadap Kepuasan Nasabah Pada PT Bank CIMB Niaga Tbk Cabang Faletehan Jakarta

7

22080809

NISA MARLINA

Riset

Proses Administrasi Pemasaran Jasa Terhadap Kualitas Pelayanan Nada Sambung Pribadi Pada PT Music Factory Indonesia Jakarta

8

22080829

RENI LESTARI

Riset

Prosedur Administrasi Pengajuan Kredit Motor Terhadap Kelancaran Proses Penjualan Pada PT Bussan Auto Finance Tangerang

9

22080927

FEBRI HARYANTI

Riset

Prosedur Administrasi Pembiayaan Event dan Dampaknya Terhadap Efisiensi Kerja Bagian Keuangan Pada PT Multi Daya Optima Resource Jakarta

10

22080851

SULISTI SRI UTAMI


Riset

Pentingnya Pemberian Kompensasi Terhadap Peningkatan Produktivitas Kerja Karyawan Pada PT Wahana Ekonomi Semesta Jakarta

11

22080863

ANA AMELIA

Riset

Prosedur Pembelian Bahan Baku dan Dampaknya Terhadap Kelancaran Penjualan Makanan dan Minuman Pada Restoran Biblotheque Jakarta

12

22080813

RIKA ANGGRAENI

Riset

Peranan Gaya Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Motivasi Kerja Pegawai Pada Restoran Dim Sum Festival Kemang Jakarta

13

22080869

AGUS SULISTIYANTO

Riset

Prosedur Administrasi Pemberian Pinjaman Terhadap Efektivitas Pengelolaan Piutang Pada Koperasi Pegawai SetJen Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta

14

22080881

FRANSISCA RAHMAWATI

Riset

Pentingnya Saluran Distribusi Dalam Meningkatkan Volume Penjualan Pada PT Harsa Duta Mandiri Jakarta

15

22080906

FAHMI SULAIMAN

Riset

Pentingnya Persediaan Bahan Baku Terhadap Kelancaran Penjualan Pada Divisi Food And Beverage Restoran Batavia Coffee Shop Hotel Best Western Jakarta

16

22080817

DESSY ANGGRAENI

Riset

Pelaksanaan Penerapan Disiplin Kerja dan Dampaknya Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Bagian SDM Pada PT Serasi Tunggal Mandiri Jakara

17

22080887

ZAKIYAH DARAJAT

Riset

Analisis Strategi Promosi Terhadap Volume Penjualan Produk Manuka Health Pada UD Citra Alami Jakarta

18

22080924

SYAMSUDIN KAMIL

Riset

Pentingnya Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Tirta Varia Inti Pratama Jakarta

19

22080807

DARWANTI

Riset

Pentingnya Strategi Personal Selling Dalam Meningkatkan Penjualan Jasa Pada PT Megah Alengga Jakarta

20

22080853

YULIANA PRASTIKA


Riset

Prosedur Pelayanan Jasa Aplikasi Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada PT Jatis Mobile Jakarta

21

22080883

MARIAULI TAMPUBOLON

Riset

Prosedur Administrasi Aktuaria Terhadap Efektivitas Pelayanan Calon Pemegang Polis Pada PT Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Jakarta

22

22080902

UTARI NINGSIH

Riset

Prosedur Pengadaan Bahan Baku dan Dampaknya Terhadap Standart Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 Pada PT Panel Asri Perkasa Jakarta

23

22080910

AROCHMAN

Riset

Kausalitas Kegiatan Promosi Terhadap Perolehan Jumlah Siswa Pada Lembaga Pendidikan Primagama Bintaro Veteran Jakarta

24

22080913

WINARNI

Riset

Pelaksanaan Manajemen Bimbingan dan Konseling Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan Pada SMA Negeri 32 Jakarta

25

22070772

RACHMI IZATI

Riset

Peranan Pemberian Insentif Terhadap Motivasi Kerja Karyawan PT Snapy Cabang Radio Dalam di Jakarta

26

22060867

NIA KURNIATI

Riset

Peranan Hubungan Masyarakat Dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Konsumen Bagian Pemasaran Pada PT Gunung Gading Jakarta

27

22080928

SELLY MUHARANI

Riset

Pentingnya Audit Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Meningkatkan Efektivitas Kerja Karyawan Pada PT PLN (Persero) Cabang Tomang Jakarta
   

Sabtu, 11 Juni 2011

Artikel Pemikiran

Pancasila Sebagai Ideologi Menghadapi Tantangan Kedepan Bangsa Indonesia

Oleh: Dirgahayu Erri


Pancasila adalah ideologi yang digagas Bung Karno menjadi dasar negara terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diterimanya pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan negara Indonesia. Pancasila berisi lima sila yang pada hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari pancasila tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, nilai Persatuan Indonesia, nilai Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan nilai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan pernyataan secara singkat bahwa nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Dalam artikel ini penulis ingin mencoba mengkaji kembali konsep pemikiran ideologi yang kemudian diarahkan kepada sumbang saran pemikiran sebagai implementasi realita nyata kehidupan berbangsa untuk mewujudkan cita-cita luhur dari pancasila dalam menghadapi tantangan kedepan bangsa Indonesia. Makna nilai-nilai dalam Pancasila yang dimaksud dijelaskan sebagai berikut:
1.    Nilai Ketuhanan
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai keTuhanan juga memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama. Tetapi pada kenyataan saat ini sepertinya pancasila akan menangis jika mendengar bangsanya masih ada yang bertengkar soal agama, menganggap dirinya yang paling benar. Padahal jelas-jelas semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran. Nilai pancasila yang pertama ini sebenarnya adalah hubungan individu dengan Tuhan dimana hendaknya manusia jangan bentindak sebagai hakim dalam urusan kepercayaan yang di yakini, tapi mewujudkan secara nyata apa yang diyakini sebagai kebenaran dan kebaikan berdasarkan ajaran agama masing-masing sehingga tidak perlu timbul konflik karena perbedaan. Dimana perbedaan pada dasarnya memang diciptakan Tuhan sebagai dinamika kehidupan.
2.    Nilai Kemanusiaan
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. Tetapi pada kenyataan saat ini sedikit sekali orang-orang yang masih tulus memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Sikap individualis cenderung muncul ditengah kehidupan berbangsa ketika orang lain tidak lagi dianggap sebagai pihak yang bisa menguntungkan. Sikap mau melayani tanpa mengharapkan imbalan yang seharusnya muncul dari dalam hati sebagai wujud kemanusiaan tergilas oleh keegoismean seseorang. Kemanusiaan yang adil dan beradab harus diawali dengan menumbuhkan cinta kasih dan mau melayani sesuai dengan perannya masing-masing dimasyarakat. Namun memang harus terlebih dahulu dicontohkan oleh para pemimpin bangsa sehingga bisa dilihat dan diterapkan oleh masyarakat yang dipimpin.
3.    Nilai Persatuan
Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia. Bhineka Tunggal Ika bermakna berbeda-beda tetapi satu juga, pemimpin bangsa harus sadar bahwa keanekaragaman adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Masyarakat harus diajarkan nilai persatuan untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa ini. Persatuan dalam perbedaan akan membuahkan tenaga maksimal sebagai kekuatan mencapai bangsa yang besar. Jangan lagi mengajarkan dan mendoktrin masyarakat bahwa perbedaan sebagai sebuah bencana. Bersatu kita teguh, bercerai-berai kita runtuh.
4.    Nilai Kerakyatan
Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan mengandung makna suatu  pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Kenyataan yang ada saat ini adalah nilai kerakyatan dari rakyat, oleh golongan dan untuk golongan tertentu. Kepentingan golongan tertentu dibungkus atas nama rakyat berbentuk partai. Berbagai tujuan luhur dalam konsep dan peraturan yang ada selalu ditunggangi kepentingan kelompok dan golongan tertentu. Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan belum sepenuhnya mewakili keinginan rakyat. Eksekutif, legislatif dan yudikatif seharusnya rela melepaskan kepentingan partai dan golongan untuk lebih mengedepankan kepentingan rakyat.
5.    Nilai Keadilan
Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah atau batiniah. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. Karena sifatnya abstrak dan normatif, isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit, perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya. Sebagai nilai dasar, nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. Artinya, dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia. Kenyataannya mayoritas rakyat Indonesia masih belum merasakan keadilan sosial, sistem kapitalis lebih mengarah kepada kepentingan pemilik modal. Kaum lemah sebagai mayoritas makin termaginalkan. Nilai keadilan sosial adalah hal yang paling sulit diterapkan di Indonesia selama para pemimpin masih melakukan cara-cara kotor. Padahal kita tau bangsa ini kaya akan sumber daya alam.
Menghadapi era globalisasi, permasalahan ekonomi, ancaman bahaya laten terorisme, komunisme dan fundamentalisme merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Disamping itu yang patut diwaspadai adalah pengelompokan suku bangsa di Indonesia yang kini semakin kuat. Ketika bangsa ini kembali dicoba oleh pengaruh asing untuk dikotak-kotakan tidak saja oleh konflik vertikal tetapi juga oleh pandangan terhadap ke Tuhanan Yang Maha Esa. Saat ini masyarakat dari berbagai kalangan harus kembali disadarkan akan pentingnya penanaman kembali nilai-nilai yang saat ini tinggal sekedar konsep. Bangsa ini membutuhkan soliditas dan persatuan hingga sikap gotong royong untuk menata kembali negeri kita tercinta. Parahnya sebagian kecil masyarakat terutama justru yang ada di perkotaan justru lebih mengutamakan kelompoknya, golonganya bahkan negara lain dibandingkan kepentingan negaranya. Untuk itu sebaiknya setiap komponen masyarakat saling berinterospeksi diri untuk dikemudian bersatu bahu membahu membawa bangsa ini dari keterpurukan dan krisis multidimensi. -DGE-

Senin, 09 Mei 2011

Materi Tambahan Kepemimpinan

TAMBAHAN MATERI KEPEMIMPINAN
TIPE DAN GAYA KEPEMIMPINAN SERTA PEMIMPIN VISIONER
(disarikan dari berbagai sumber di internet)

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, antara lain:

Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)
1.     Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa orang individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial.
2.  Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.
3.     Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.
4.     Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.

Tipe-tipe Kepemimpinan:
Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinanotokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk:

1. Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
2.   Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
3.   Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
1.     Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
2.     Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
3.     Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
4.     Menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.

Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tokoh-tokoh adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.

Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.

Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasiterdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.

Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah:
1.       Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
2.      Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.
3.      Status quo organisasional tidak terganggu
4.      Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.
5.   Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.

Tipe Demokratik
1.    Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
2.    Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
3.         Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
4.         Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia
5.         Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.

Ciri ciri pemimpin dan kepemimpinan yang ideal antara lain:
1.    Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.
2.    Kemampuan Bertumbuh dan Berkembang
3.  Sikap yang Inkuisitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
4. Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan dalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
5.       Daya Ingat yang Kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
6.       Kapasitas Integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.
7.         Keterampilan Berkomunikasi secara Efektif, fungsi komunikasi dalam organisasiantara lain:fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
8.     Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.
9.      Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.
10.      Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya.  Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.
11.   Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.
12.   Kemampuan Menentukan Prioritas, biasanya yang menjadi titik tolak strategik organisasional adalah “SWOT”.
13.      Kemampuan Membedakan hal yang Urgen dan yang Penting
14.   Naluri yang Tepat, kekampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
15.      Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, keterikan satu sama lain.
16.  Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.
17.    Keteladanan seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
18.      Menjadi Pendengar yang Baik
19.      Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisonal, temporal dan spatial.
20.      Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
21.      Ketegasan
22.      Keberanian
23.      Orientasi Masa Depan
24.      Sikap yang Antisipatif dan Proaktif

KERETAKAN DALAM ORGANISASI
Salah paham dalam menerima dan menafisrkan pesan.

PEMIMPIN VISIONER
Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas (Diana Kartanegara, 2003).
Kepemimpinan Visioner memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya harus memiliki empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu:
Ø     Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and motivation.”
Ø  Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini termasuk, yang plaing penting, dapat “relate skillfully” dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi(investor, dan pelanggan).
Ø  Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved vision).
Ø  Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan “ceruk” untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk mengatur sumber daya organisasi guna memperiapkan diri menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.

Barbara Brown mengajukan 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh pemimpin visioner, yaitu:
Ø  Visualizing.  Pemimpin visioner mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan mempunyai gambaran yang jelas kapan hal itu akan dapat dicapai.
Ø  Futuristic Thinking. Pemimpin visioner tidak hanya memikirkan di mana posisi bisnis pada saat ini, tetapi lebih memikirkan di mana posisi yang diinginkan pada masa yang akan datang.
Ø  Showing Foresight. Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi dan faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi rencana.
Ø  Proactive Planning. Pemimpin visioner menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik untuk mencapai sasaran tersebut. Pemimpin visioner mampu mengantisipasi atau mempertimbangkan rintangan potensial dan mengembangkan rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu
Ø  Creative Thinking. Dalam menghadapi tantangan pemimpin visioner berusaha mencari alternatif jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang dan masalah. Pemimpin visioner akan berkata “If it ain’t broke, BREAK IT!”.
Ø  Taking Risks.  Pemimpin visioner berani mengambil resiko, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukan kemunduran.
Ø  Process alignment. Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menselaraskan tugas dan pekerjaan setiap departemen pada seluruhorganisasi.
Ø  Coalition building. Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasara dirinya, dia harus menciptakan hubungan yang harmonis baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Dia aktif mencari peluang untuk bekerjasama dengan berbagai macam individu, departemen dan  golongan tertentu.
Ø  Continuous Learning. Pemimpin visioner harus mampu dengan teratur mengambil bagian dalam pelatihan dan berbagai jenis pengembanganlainnya, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi. Pemimpin visioner mampu mengejar peluang untuk bekerjasama  dan mengambil bagian dalam proyek yang dapat memperluas pengetahuan, memberikan tantangan berpikir dan mengembangkan imajinasi.
Ø  Embracing Change. Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan adalah suatu bagian yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika ditemukan perubahan yang tidak diinginkan atau  tidak diantisipasi, pemimpin visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat pada perubahan tersebut.
Ø  Burt Nanus (1992),  mengungkapkan ada empat peran yang harus dimainkan oleh pemimpin visioner dalam melaksanakan  kepemimpinannya, yaitu:
Ø  Peran penentu arah (direction setter). Peran ini merupakan peran di mana  seorang pemimpin menyajikan suatu visi, meyakinkan gambaran atau target untuk suatu organisasi, guna diraih pada masa depan, dan melibatkan orang-orang dari “get-go.” Hal ini bagi para ahli dalam studi dan praktekkepemimpinan merupakan esensi dari kepemimpinan. Sebagai penentu arah, seorang pemimpin menyampaikan visi, mengkomunikasikannya, memotivasi pekerja dan rekan, serta meyakinkan orang bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang benar, dan mendukung partisipasi pada seluruh tingkat dan pada seluruh tahap usaha menuju masa depan.
Ø  Agen perubahan (agent of change). Agen perubahan merupakan peran penting kedua dari seorang pemimpin visioner. Dalam konteks perubahan, lingkungan eksternal adalah pusat. Ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan politis terjadi secara terus-menerus, beberapa berlangsung secara dramatis dan yang lainnya berlangsung dengan perlahan. Tentu saja, kebutuhan pelanggan dan pilihan berubah sebagaimana halnya perubahan keinginan para stakeholders. Para pemimpin yang efektif harus secara konstan menyesuaikan terhadap perubahan ini dan berpikir ke depan tentang perubahan potensial dan yang dapat dirubah. Hal ini menjamin bahwa pemimpin disediakan untuk seluruh situasi atau peristiwa-peristiwa yang dapat mengancam kesuksesan organisasi saat ini, dan yang paling penting masa depan. Akhirnya, fleksibilitas dan resiko yang dihitung pengambilan adalah juga penting lingkungan yang berubah.
Ø  Juru bicara (spokesperson). Memperoleh “pesan” ke luar, dan juga berbicara, boleh dikatakan merupakan suatu bagian penting dari memimpikan masa depan suatu organisasi. Seorang pemimpin efektif adalah juga seseorang yang mengetahui dan menghargai segala bentuk komunikasi tersedia, guna menjelaskan dan membangun dukungan untuk suatu visi masa depan. Pemimpin, sebagai juru bicara untuk visi, harus mengkomunikasikan suatu pesan yang mengikat semua orang agar melibatkan diri dan menyentuh visiorganisasi-secara internal dan secara eksternal. Visi yang disampaikan harus “bermanfaat, menarik, dan menumbulkan kegairahan tentang masa depanorganisasi.”
Ø  Pelatih (coach). Pemimpin visioner yang efektif harus menjadi pelatih yang baik. Dengan ini berarti bahwa seorang pemimpin harus menggunakan kerjasama kelompok untuk mencapai visi yang dinyatakan. Seorang pemimpin mengoptimalkan kemampuan seluruh “pemain” untuk bekerja sama, mengkoordinir aktivitas atau usaha mereka, ke arah “pencapaian kemenangan,” atau menuju pencapaian suatu visi organisasi. Pemimpin, sebagai pelatih, menjaga pekerja untuk memusatkan pada realisasi visi dengan pengarahan, memberi harapan, dan membangun kepercayaan di antara pemain yang penting bagi organisasi dan visinya untuk masa depan. Dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat dibantah bahwa pemimpin sebagai pelatih,  lebih tepat untuk ditunjuk  sebagai “player-coach.”

Senin, 02 Mei 2011

Artikel Pendidikan


Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889)

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlanderdiharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun".
Beliau wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya, 2 Mei, kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dan wajahnya bisa dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000.
Nama beliau diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.
Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Yang dimaksud belajar dengan 3 dinding bukanlah belajar dikelas dengan jumlah dinding 3 buah ( salah satu dari 4 sisi dinding tidak ada ), tetapi konsep tersebut mencerminkan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita di luar. Belajar bukan sekedar teori dan praktek disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sekolah dan Dunia menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu diharapkan para guru mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga kepada siswa jika tidak sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak diketahuinya tentang dunia kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep ini, agar para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah lulus dari sekolah.
dikutip dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hajar_Dewantara dan http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2248